Tuesday, September 29, 2009

Friday, September 11, 2009

salam ramadhan

salam ramadhan dan selamat hari raya diucapkan kepada semua kenalan maaf zahir dan batin dipohon semoga kita semua tergolong dalam golongan hamba yang diredai...apa yang pasti hari ini telah 21 ramadhan semakin lama semakin hampir dengan penghujungnya....begitu cepat sekali masa berlalu tanpa disedari kehadiran bulan ramadhan yang ditunggu-tunggu hampir meninggalkan kita...

tapi apakah tahap iman kita semakin bertambah dipengakiran ramadhan ini?? moga sama-sama kita renung dan menginsafi diri dengan penuh kesunguhan sama-sama kita manfaatkan baki ramadhan yang ada ini dengan meningkatkan keimanan kepada allah s.w.t dengan keimanan yang mantap. insyaAllah.....

apa yang penting sekali sama-sama kita sentiasa merenung akan kelemahan yang ada kerana kelamahan itulah punca kegagalan yang membawa kemusnahan iman... sama-sama kita manfaatkan ramadhan ini..jadikan ia bulan yang membawa kepada kemenangan kepada orang-orang kita serta orang-orang yang beriman didunia ini... doa-doakanlah untuk diri yang hina ini moga dibukakan pintu hati ini menerima hidayah allah dengan tenang dan dianugerahkan malam lailatulqadar insyaallah...wassalam..

Wednesday, September 2, 2009

salam ramadhan

assalamualaikum dan salam ramadhan......

selamat menyambut bulan ramadhaN semoga dengan kehadirannya mampu mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi InsyaAllah.....moga sama-sama kita beroleh rahmat dan maqfirah dari Allah S.W.T....

kehadiran ramadhan amat dinanti-nantikan oleh diri ini namun dengan kehadirannya diri ini masih belum lagi mampu berubah menjadi seorang yang beriman....semakin lama semakin dekat ramadhan hampir meninggalkan pergi...hari ini sudah genap 14 ramadhan hanya tinggal beberapa minggu aje lagi ramadhan bakal pergi.....

walaupun sudah setenggah bulan kehadiran ramadhan aku dapat merasai akan kelemahan diri selama ini masih belum dapat diperbaiki lagi.....begitu berat untukku merubah diri ini untuk mendekatkan diri pada Allah, begitu sukar untukku mengunakan ramadhan ini untuk merubah diri ini...Ya Allah bantulah hambamu ini berikanlah kekuatan untuk terus menjadi hambamu yang beriman dan sentiasa patuh pada perintahMu ya Allah...

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim....berilah keberkatanMu tehadap hambamu yang hina ini....
jadikanlah Ya Allah diri ini hamba yang dekat denganmu yang sentiasa dibawah Rahmat dan Kasih Sayangmu....janganlah Ya Allah engkau melaknati diri ini disebabkan oleh dosa-dosa yang lalu....sesungguhnya Ya Allah diri ini hanyalah insan yang lemah yang sentiasa megharapkan keampunan dariMu...

Friday, July 31, 2009

sunnah yang diremehkan

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu bagi orang yang mengharap(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al Ahzab: 21)

Secara bahasa, sunnah berarti jalan. Sedang menurut istilah ilmu fiqih yaitu suatu perbuatan yang berpahala bila
dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan. Meskipun demikian, sebagai realisasi cinta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kita harus memposisikan perbuatan sunnah, sejalan dengan 'rekomendasi' Allah: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan(kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al Ahzab: 21)
Ibnu Katsir berkata: "Ayat ini adalah dalil yang kuat untuk meneladani Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam ucapan, perbuatan dan sikap beliau." Meniru dan meneladani seseorang adalah manifestasi cinta. Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga lebih mencintai aku, daripada orang tuanya, anak-anaknya dan segenapmanusia." (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiallahu Anhu) Karena itu, pertanda seberapa besar cinta kita kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam di antaranya dapat diukur dengan perhatian kita dalam meneladani setiap ucapan dan tindak tanduk beliau. Tapi ironinya, karena merasa tak akan mendapat dosa, umat Islam banyak yang meremehkan masalah-masalah sunnah. Alangkah baiknya kita mengikuti jejak Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma, yang senantiasa
berusaha menerapkan setiap apa yang ia ketahui dari perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Hingga kini, banyak masalah sunnah yang terlupakan bahkan diremehkan oleh umat. Adapun di antara sunnah-sunnah yang seringdilupakan dan diremehkan adalah sbb.:

Pertama: Berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung sebelum berwudhu). Ketika berwudhu, banyak orang yang tidak berkumur dan istinsyaq. Ada pula yang hanya berkumur tetapi tidak melakukan istinsyaq. Padahal dua-duanya merupakan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Abdullah bin Zaid meriwayatkan tentang cara berwudhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "berkumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan. Beliau melakukan hal itu tiga kali." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kedua: Berwudhu sebelum mandi dari hadats besar. Jarang orang memperhatikan tata cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan sunnah. Dalam benak mereka, yang terpikir hanyalah bagaimana bisa menghilangkan hadats besar. Adapun menurut sunnah, di antaranya adalah mengawali mandi tersebut dengan berwudhu. Secara rinci cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dijelaskan dalam hadits Aisyah Radhiallahu Anha; "Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bila mandi dari jinabat, memulai dengan mencuci kedua tapak tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jari beliau ke dalam air dan dengannya beliau menyelanyela akar rambutnya, lalu menyiram kepalanya dengan tiga kali cidukan dari kedua tangannya, lalu menyiram seluruh kulit (tubuhnya)." (HR. Al Bukhari)

Ketiga: Mendatangi shalat dengan tenang. Bila iqomat telah dikumandangkan, atau shalat jama'ah telah didirikan kita banyak menyaksikan orang-orang berlarian untuk mendapatkan ruku' bersama imam. Di samping jauh dari sunnah, perbuatan itu mengakibatkan pelakunya tidak bisa khusyu', dan mengganggu mereka yang sedang shalat. Untuk menanggulangi hal tersebut, hendaknya kita datang berjamaah lebih awal, yang dengan begitu kita bisa melakukan perbuatan sunnah yang lain. Shalat sunnah qabliyah, misalnya. Petunjuk cara mendatangi shalat berjamaah telah diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau bersabda: "Bila shalat telah didirikan, jangan mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetapi datanglah dengan berjalan secara tenang. Apa yang kamu dapatkan maka shalatlah dan apa yang kamu ketinggalan darinya maka sempurnakanlah.
(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Keempat: Shalat dengan memakai sutrah (penghalang). Shalat dengan memakai sutrah sering tidak diperhatikan, khususnya ketika shalat sunnat. Hal ini tentu jauh dari sunnah.Dari Nafi' bin Abdillah, "bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menancapkan tombak kemudian beliau shalat (tepat) di hadapannya."
(HR. Al Bukhari)

Kelima: Merapatkan pundak dengan pundak dan telapak kaki dengan telapak kaki dalam shaf (barisan) shalat jama'ah.Mayoritas shaf-shaf di setiap shalat jama'ah di banyak masjid selalu kita dapati kekurangan.Misalnya tidak lurus atau kurang rapat. Yang lebih menyedih-kan, ada orang yang marah bila diingatkan. Inilah potret kebodohan umat tentang sunnah. Padahal Anas Radhiallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:"Luruskanlah barisan-barisan kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku. Dan setiap orang dari kami merapatkan pundaknya dengan pundak kawannya, dan telapak kakinya dengan telapak kaki kawannya." (HR.Bukhari). Hadits di atas menegaskan bagai-mana besarnya perhatian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam soal lurus dan rapatnya barisan shalat.

Keenam: Shalat malam/ tahajud.Banyak orang mengeluh dirinya sulit sekali bangun malam. Memang benar, bangun malam itu tidak mudah. Ia membutuhkan usaha dan kesabaran. Untuk memudahkan bangun malam, ikutilah nasehat-nasehat berikut ini:

1.Tinggalkan maksiat dan dosa! Sebab keduanya menghalangi manusia dari keta'atan.
2.Niatlah sungguh-sungguh untuk bangun dan ikhlas karena Allah. Baik pula jika disertai do'a memohon diberi
kekuatan bangun tengah malam.
3.Bersegera tidur. Begadang malam hanya akan membuatmu terlambat bangun. Apalagi jika tiada manfaatnya.
Sekedar ngobrol misalnya. Bahkan hingga untuk pekerjaan penting sekali-pun, Anda harus membatasi waktunya.
4.Tidak makan terlalu banyak menjelang tidur. Makan banyak akan membuat orang malas beribadah.
5.Membaca do'a-do'a yang disun-nahkan ketika mau tidur.
6.Meletakkan alarm atau sejenisnya sehingga bisa bangun sesuai dengan waktu yang diinginkan.

Saudaraku, usahakanlah selalu shalat malam. Mudah-mudahan do'a atau air matamu di sepertiga malam bisa
menyelamatkanmu dari siksa Neraka. Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya: "Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu ?" Beliau menjawab: "Shalat di tengah malam." Ia bertanya (lagi) : "Dan puasa apakah yang lebih utama setelah Ramadhan ?" Beliau menjawab: "Puasa pada bulan Muharram." (Hadits riwayat Al Jama'ah kecuali Al Bukhari dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

Ketujuh: Memohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur dan Neraka Jahannam, dari fitnah kehidupan dan kematian, fitnah Dajjal dan dari dosa serta hutang. Mohon perlindungan tersebut diucapkan menjelang akhir do'a tasyahud dalam shalat. Urwah bin Zubair berkata, Ai'syah Radhiallahu Anha mengabarinya bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam shalatnya berdo'a: "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah Dajjal, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari dosa dan hutang." Aisyah Radhiallahu Anha berkata: "Seseorang kemudian bertanya kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam: "Betapa sering engkau memohon perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:"Sesungguhnya orang yang berhutang itu bila berkata dusta dan bila berjanji mengkhianati." (HR. Muslim)

Kelapan: Berdo'a sebelum salam. Abdullah bin Amr meriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu Anhu, bahwasanya beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: "Ajarkanlah kepadaku do'a yang kupanjatkan dalam shalat." Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam menjawab: "Ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku terlalu banyak menganiaya diriku sendiri, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dari sisiMu, dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." kemudian hendaknya ia memilih do'a yang disenanginya lalu berdo'a dengannya. (HR. Al Bukhari) Do'a ini dibaca setelah do'a mohon perlindungan (lihat ketujuh), selanjutnya kita membaca do'a yang kita kehendaki. Alangkah baiknya kita membiasakan berdo'a pada waktu-waktu yang ditunjukkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Di waktu yang mustajab tersebut kita meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat.

Kesembilan: Shalat sunnah di rumah. Banyak manfaat shalat sunnah di rumah, di antaranya:

1.Shalat sunnah di rumah adalah tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Melakukannya berarti
menghidupkan dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
2.Ia lebih menjaga keikhlasan hati dari sikap riya' dan ingin dipuji orang.
3.Shalat sunnah di rumah dengan sendirinya mengajarkan cara shalat yang benar kepada anggota keluarga, terutama kepada isteri dan anak-anak. Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Lakukanlah sebagian shalat-shalat (sunnah)mu di dalam rumah, dan jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan." (HR. Al Bukhari) Aisyah Radhiallahu Anha berkata: "Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam shalat empat rakaat di rumahku sebelum shalat Zhuhur, kemudian keluar dan shalat bersama para Sahabat. Kemudian masuk (rumah lagi) lalu shalat dua rakaat. Beliau shalat Maghrib bersama para Sahabat, kemudian masuk (rumah) dan shalat (sunnah) dua rakaat. Beliau shalat Isya' bersama para Sahabat, kemudian masuk rumahku, lalu shalat (sunnah) dua rakaat." (HR. Muslim) Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: "Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan sebagian besar shalat sunnahnya di dalam rumah. Terutama ba'diyah Maghrib. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan bahwa beliau pernah melakukannya di dalam masjid."

kata-kata bumi kepada manusia

Sedarlah bahawa saban hari bumi sentiasa berkata-kata kepada manusia.

Berkata Anas bin Malik r.a. ``Sesungguhnya setiap hari bumi menyeru kepada manusia sepuluh perkara:

1. Wahai anak Adam! Berjalanlah di atas perutku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dimasukkan ke dalamnya kelak.

2. Engkau melakukan maksiat di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan diazab di dalam perutku.

3. Engkau ketawa di atas perutku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menangis di dalam perutku.

4. Engkau bergembira di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan kecewa di dalam perutku.

5. Engkau mengumpul harta di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menyesal di dalam perutku.

6. Engkau makan benda yang haram di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dimakan oleh ulat di dalam perutku.

7. Engkau angkuh di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan dihina di dalam perutku.

8. Engkau berlari dengan riang di atas belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan jatuh di dalam perutku dalam keadaan dukacita.

9. Engkau hidup di dunia bersiramkan cahaya matahari, bulan dan bintang di
belakangku, tetapi ingatlah!
Engkau akan tinggal dalam kegelapan di dalam perutku.

10. Engkau hidup di atas belakangku beramai-ramai, tetapi ingatlah!
Engkau akan keseorangan di dalam perutku.

anak yang soleh

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah SWT. Setiap
kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia
akan bercakap dengan Allah SWT. Nabi Musa sering bertanya dan Allah SWT akan menjawab
pada waktu itu juga. Ini lah kelebihannya yang tiada pada nabi-nabi lain. Suatu hari Nabi
Musa bertanya kepada Allah SWT...
“Ya Allah siapakah orang yang di syurga nanti akan berjiran dengan aku ?”.
Allah SWT menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya.
Setelah mendapat jawapan Nabi Musa turun dari bukit dan terus berjalan menuju ke tempat
yang diberitahu.
Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya beliau sampai ke tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa penduduk di situ beliau berjaya bertemu dengan orang
tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan
rumah tidak melayan Nabi Musa dan terus masuk ke bilik dan melakukan sesuatu. Sebentar
kemudian dia keluar sambil membawa seekor khin’zir betina yang besar dan didokong
dengan cermat. Nabi Musa terkejut dan bertanya “Apa hal ini ?” di dalam hatinya penuh
kehairanan. Khin’zir itu dimandikan dan dibersihkan dengan baik, dikeringkan, dipeluk dan
diciumnya. Selepas itu orang tersebut membawa keluar pula seekor khin’zir jantan dan
dilakukan serupa dengan khin’zir betina tadi.
Setelah selasai tugasnya, barulah orang itu melayan Nabi Musa dan lalu bertanya,
“Wahai saudara, apa agama kamu ?”.
“Tauhid agamaku”, jawab orang itu iaitu agama Islam.
“Mengapa kamu membela khin’zir, kita dilarang berbuat begitu”, kata Nabi Musa.
“Wahai tuan hamba, sebenarnya kedua-dua ekor khin’zir itu adalah kedua ibu-bapaku”,
terang orang itu. “Oleh kerana kedua-dua mereka telah melakukan dosa besar, Allah SWT
telah menukarkan rupa mereka kepada khin’zir. Soal dosa mereka dengan Allah adalah
urusan mereka dan urusan Allah. Aku sebagai anaknya akan berbakti dan tetap
melaksanakan kewajipan sebagai anak sepertimana yang tuan hamba lihat tadi walaupun
mereka telah bertukar menjadi khin’zir”, jelas dengan orang itu lagi.
“Setiap hari aku berdoa kepada Allah SWT agar dosa mereka diampunkan serta menukarkan
wajah mereka seperti manusia biasa”, tambah orang itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah SWT menurunkan wahyuNya kepada Nabi Musa.
“Wahai Musa inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di syurga nanti, daripada hasil
baktinya yang terlalu tinggi kepada kedua ibu-bapanya, walau pun telah berubah kepada
khin’zir. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak yang soleh di sisi Kami. Oleh kerana
dia telah berada dimaqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami makbulkan doanya.”


Itulah berkat doa anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa kedua ibu-bapa.
Walau macam mana buruk kedua ibu-bapa dan dosa kedua ibu-bapa kita, itu adalah bukan
urusan kita. Urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sepertimana
mereka menjaga kita sewaktu masih kecil lagi hinggakan dewasa. Walau banyak mana dosa
yang dilakukan, urusan kita ialah memohonkan ampun kepada Allah SWT, semoga mendapat
tempat di akhirat dan alam kubur. Erti kasih sayang kepada ibu bapa bukanlah wang ringgit,
cukuplah dengan doa agar mendapat tempat di sisi Allah SWT.

Friday, July 10, 2009

tiada yang menerima taubat melainkan Allah

Imam asy-Syafe’i sebelum pulang ke rahmatuLlah sempat menukilkan sebuah puisi yang antara lain menyebutkan: Dosa-dosaku kelihatan terlalu besar buat diriku,
tetapi setelah kubandingkan dengan keampunan-Mu,
ternyata keampunan-Mu jauh lebih besar…’

Bait-bait indah tersebut tentunya lahir daripada rasa hamba dan rasa cinta juga rasa keyakinan yang mendalam terhadap sifat-sifat dan nama-nama mulia Allah; at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), al-Ghafur (Maha Pengampun) dan ar-Rahim (Maha Penyayang).

Sifat-sifat dan nama-nama tersebut tergambar dengan cukup jelas dalam maksud wasiat-wasiat rabbani seperti berikut:"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal soleh, kemudian tetap di jalan yang benar". (Thaha : 82)

"Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang berlebih-lebihan terhadap dirinya (lazim berbuat dosa), janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar: 53).

“Tidakkah mereka tahu bahawa Allah menerima taubat daripada hamba-Nya dan menerima beberapa sedekah ? Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 104)

"Sesungguhnya Tuhanmu memberi ampunan bagi manusia atas kezalimannya, dan
sesungguhnya Tuhanmu amat keras siksanya." (Ar-Ra’ad: 6). "Barangsiapa yang bertaubat sesudah melakukan kezaliman dan berbuat kebajikan, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Maidah: 39).

“Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab r.a., berkata bahawa beberapa orang tawanan dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w. Seorang wanita di antara tawanan itu mencari-cari, ketika dia menemukan seorang anak (bayi) di antara para tawanan itu, dia ambil dan dia dakapkan keperutnya untuk disusui. Melihat keadaan itu, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada kami (para sahabat), ‘Adakah kalian berpendapat wanita ini sampai hati melemparkan anaknya ke dalam api ?’ Kami menjawab,
Tiada yang lebih menerima taubat melainkan Allah..............

‘Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak melemparkannya.’ Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sungguh, Allah lebih menyayangi para hamba-Nya, berbanding wanita tersebut terhadap anaknya.” (HR
Muslim)

Mungkin kisah dalam hadith di atas terdapat sedikit persamaan dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh Sheikh Muhammad Soleh al-Munajjid yang diringkaskan seperti berikut:
‘Dikisahkan terdapat seorang lelaki pada zaman dahulu sewaktu melewati sebuah lorong telah ternampak sebuah rumah yang terbuka pintunya. Tiba-tiba seorang perempuan mengheret keluar seorang anak kecil yang sedang menangis sambil merayu-rayu. Perempuan tersebut membiarkan anak kecil itu di luar rumah, lalu menutup pintu. Kanak-kanak tadi kemudiannya berlalu pergi. Dia berhenti, melihat sekeliling, mencari tempat untuk berteduh tapi tak siapa peduli sebagaimana emaknya sendiri. Akhirnya, dia kembali ke rumah, bagaimanapun pintu rumah masih terkatup kunci. Dia duduk di bendul pintu sambil meletakkan pipinya di bidai pintu sedang pipinya berbekas genangan air mata. Tiba-tiba pintu terbuka. Emaknya tidak dapat mengawal perasaan apabila melihatkan hal keadaan anak kecilnya itu. Perempuan itu membongkok lantas mendakap erat lalu mencium anak lelaki itu. Ujar perempuan itu sambil menangis: ‘Oh anak ibu! Anak kesayangan ibu! Buah hatiku ibu! Ke manakah engkau? Bukankah telah ibu kata jangan degil? Dengar cakap ibu. Jangan paksa ibu hukum kau. Ibu benci menghukum engkau.’ Kemudian, perempuan itu membawa masuk anak kecilnya ke dalam rumah.’

Menurut Sheikh Muhammad Soleh al-Munajjid: ‘Nabi s.a.w. pernah bersabda: ‘Allah mengasihi makhluk-Nya lebih daripada seorang perempuan kasihkan anaknya.’ Menurut beliau lagi, terlalu jauh perbandingan antara kasih ibu dan anak dengan kasih Allah dan makhluknya. Allah ‘azzawajalla amat mengalu-alukan penyesalan dan taubat daripada hamba-Nya. Allah ‘azzawajalla juga bukan sekadar menerima taubat bahkan menerima taubat yang berulang-ulang kali berdasarkan sebuah hadith sahih (HR Muslim). Dalam
riwayat tersebut, 'Abdul al-A'la menyebutkan bahawa dia tidak pasti Nabi (s.a.w.) telah menyebutkan tiga atau empat kali atau berapa banyak kali yang engkau suka. Ternyata ‘kebaikan’ Allah sering dilupakan oleh manusia. Begitu juga dengan sifat ‘cinta’ dan ‘penyayang’ Allah sering dialpakan oleh manusia yang telah terlalu banyak lagi rakus mengecap pelbagai nikmat daripada-Nya sebagaimana yang cuba dirakamkan dalam puisi berikut:

Aku yang berlari
Engkau Yang Maha Tidak Memungkiri Janji
pernah berjanji:
kalau engkau datang berjalan
Aku datang dengan berlari


Tiada yang lebih menerima taubat melainkan Allah.....................


Tapi, bila Engkau datang dengan berjalan
aku berlari sekuat hati melarikan diri

"Engkau memanggilku, tapi aku berpaling dari-Mu,
Engkau tampakkan kasih sayang-Mu padaku, tapi aku tampakkan kebencian
(terhadap yang aku tak suka) pada-Mu
Engkau menyayangiku, tetapi aku tidak mempedulikan-Mu seakan-akan aku lebih
tinggi daripada-Mu
Namun, sikapku itu tidak mencegah-Mu
untuk melimpahkan Rahmat dan Kebaikan-Mu padaku."
(Syeikh al-Ashifi dalam Bihar al-Anwar)